7.5.12

Biya dan Cinta (Bagian Keenam)

Makan merupakan bagian integral dari hubungan saya dan Biya. Makan, sebentuk emblem yang menghiasi sekaligus simbol pacaran kami. Boleh dikata, kami memiliki janji tak tertulis untuk sepanjang hidup terus makan bersama.

22.4.12

Biya dan Cinta (Bagian Kelima)

Rumah itu sederhana dan cukup asri. Dengan taman kecil di samping kiri halamannya. Ada sepeda motor yang parkir di depan, ketika saya pertama kali  datang bersama dua buah durian. Biya menyambut di depan pagar yang tingginya sepundak orang dewasa. Ini adalah pertemuan kedua kami, di suatu malam yang tak terencana.

"Tiada yang lebih diinginkan oleh sepasang kekasih selain kebersamaan, selama mungkin, selama-lamanya."

15.4.12

Biya dan Cinta (Bagian Keempat)

Jatuh cinta kepada  Biya, tidak membuat saya melambung sampai ke atas bintang-bintang. Saya justru semakin memantapkan kaki menginjak bumi. Jatuh cinta pada  Biya, saya tidak diserang insomnia mendadak. Karena jauh sebelum mengenal Biya, saya sudah mengidap insomnia tingkat dewa.


8.4.12

Biya dan Cinta (Bagian Ketiga)

Tak akan pernah ada Peradaban tanpa percakapan. Ilmu pengetahuan dibangun dengan percakapan-percakapan. Cinta saya dan Biya hidup dan bertumbuh karena percakapan.

foto ini hasil jepretan: Rizky Eka Valdano

Selepas perjumpaan singkat dan biasa, kami berebutan untuk menceritakan perjalanan hidup dan harapan kehidupan berdua. Seperti sepasang bocah kecil berebut giliran memainkan dadu monopoli. Kami semakin sering bermain bersama.

31.3.12

Biya dan Cinta (Bagian Kedua)

PADA SUATU PAGI YANG BIASA. Saya bergegas menuju keramaian Pondok Indah. Entah sudah berapa lama tidak bangun pagi dan membuat janji sepagi ini. Padahal itu sudah cukup siang. Pukul 9.

Metromini 102 melangkah dengan sisa-sisa kantuk semalam. Tersendat-sendat karena faktor usia. Seperti 510, D01, P21, S10 dan beberapa odong-odong lainnya, 102 adalah simbol cinta mahasiswa dan masyarakat kelas bawah di  Ciputat. Meski tergopoh-gopoh memuntahkan asap hitam, 102 tetap berwibawa  di jalanan. Dan Anda tahu, sopir metromini adalah raja tanpa mahkota di  jalanan Jakarta.